Hari ini aku kembali menjalani tugas sebagai seorang jurnalis. Bersama Rohman, kami melangkah dari satu tempat ke tempat lain, membawa niat baik dan semangat kontrol sosial. Tapi seperti biasa, perjalanan ini tak selalu mudah. Ada suka, ada duka. Ada senyum, ada juga lelah yang tak terlihat.
Menjadi jurnalis itu bukan hanya soal menulis berita. Tapi soal keberanian, ketulusan, dan ketahanan hati. Kadang kami berharap dapat rezeki dari apa yang kami kerjakan—bukan semata uang, tapi juga apresiasi dan keadilan. Namun kenyataannya, harapan itu sering tak sesuai dengan hasil. Dan hari ini adalah salah satu hari di mana kecewa itu datang diam-diam, menggantikan semangat yang sempat menyala sejak pagi.
Aku dan Rohman duduk sejenak di pinggir jalan, hanya berbagi rokok dan cerita singkat. Kami saling tahu, tidak perlu kata-kata banyak untuk memahami perasaan masing-masing. Hanya mata yang bicara, “Kita capek ya?”
Yang membuat hati terasa sesak, kadang kebenaran yang kita bawa justru membuat kita dimusuhi. Ancaman bukan hal baru, terutama saat berita yang kita angkat menyentuh kepentingan orang-orang besar yang tak suka kesalahannya dibuka ke publik. Nyawa bisa saja jadi taruhan—ini bukan drama, ini kenyataan.
Tapi meski begitu, aku tak ingin menyerah. Profesi ini adalah panggilan. Menyuarakan yang tak bersuara, membuka mata yang selama ini tertutup oleh kepentingan. Meski hari ini
(Sopo dan Jarwo)